Skip navigation

Kebiasaan setiap tahun yang dilakukan aku dah keluarga adalah berkunjung ke rumah mbah di desa. Kemarin (03/10)sekitar pukul 15.00 kami sekeluarga pergi ke desa di kaki gunung Merbabu. Hari itu terasa panas, ya semoga saja sampe di desa di sambut dengan kesejukan.
Setelah menempuh selama 30 menit dengan motor akhirnya sampai juga. Wah mbah dah menyambut dengan wajah berseri. Maklum kami hanya sekali dalam setahun berkunjung.
Wah, ternyata cuaca tetap panas tapi lebih sejuk dikit ketimbang di kota. Setelah melepas penat dengan minum teh anget, lalu kami pun mengunjungi satu per satu rumah tetangga dan saudara lainnya.
Satu kebiasaan baik tapi juga bikin kesel dikit, tiap kali masuk ke rumah tetangga atau saudara selalu ditawarin (dipaksa) untuk makan, coba bayangkan jika mengunjungi 10 rumah, bisa buncit perut ini hee.
Tapi bisa disiasati dengan makan sedikit saja, nglegake dalam bahasa jawa untuk menghormati tawaran tuan rumah.
Makanan yang khas di desa itu adalah serundeng, lauk yang terbuat dari kelapa parut yang dimasak sangrai dengan gula aren yang lumayan menggugah selera, apalagi ditambah dengan irisan daging sapi. Selain serundeng, ada juga sambal godog, sayur yang berisi tahu dan dimasak pedas dengan santan juga banyak disediakan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 saatnya pulang ke rumah mbah, tapi tiba-tiba hujan lebat, wah padahal siangnya cerah-cerah saja. Niat pulang diurungkan meskipun sakit kepalaku kambuh. Akhirnya kami pun singgah sembari menunggu hujan reda di rumah salah satu kerabat. Karena cuaca yang dingin, saudaraku membuat wedang jahe, wah pas banget diminum waktu hujan seperti ini dan isajikan panas-panas membuat badan terasa hangat.
Karena sudah terlalu malam dan hujan sedikit reda akhirnya kami putuskan untuk pulang, dan tentunya sesampainya di rumah nenek sakit kepalakupun menjadi-jadi. Badan langsung terkapar di tikar diatas amben, meja panjang dan lebar dari bambu yang ditujukan untuk tempat bersantai. Dan tak lama kemudian akupun tertidur.
Dinginnya pagi membangunkanku tadi subuh, semalaman aku tidur berselimutkan jarik kain batik yang dipake bersama kebaya, kain tipis tapi cukup melindungi dari dingin. Tak lama kemudian akupun ambil air wudlu dan sholat subuh. Indah dan sejuknya pagi tapi kurang bisa menikmati karena kepala masih pening dan berat, tapi setidaknya rasa syukur tetap terucap.

4 Comments

  1. desanya di mana sih? kesannya kok masih adem banget…

  2. di Salatiga bu wyd kota kecil di Jawa Tengah (40km an dari kota Semarang), di kaki gunung merbabu, jadi dingin. tapi sudah terasa panas semenjak langit-langit bumi ini berlubang😀

    • piachan
    • Posted 22 Oktober, 2008 at 2:16 pm
    • Permalink

    kmu org mana?
    Di kaki gunung aja udh dingin?
    Gimana puncaknya?😀
    please comment bbrpa posting aq yah!!
    ^____________^

  3. Hai Piachan, Thanks dah mampir.. aku anak salatiga, BTW alamat blogmu mana? hee.. lupa ya?😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: